Senin, 13 Mei 2013

Bahan pelajaran DALAM PEMBELAJARAN pendidikan AGAMA ISLAM



BAB I
              PENDAHULUAN         

1.1   Latar Belakang
Bahan pelajaran dalam pembelajaran PAI di sekolah harus bermanfaat untuk bekal kehidupan siswa pada masa kini dan masa yang akan datang. Pembelajaran yang bersifat content oriented yaitu mengarahkan siswa pada penguasaan materi pembelajaran dengan hanya sekedar mengetahui berbagai fakta yang lepas-lepas, perlu dimodifikasi menjadi lebih berorientasi kepada kehidupan siswa. Siswa diperkenalkan dengan berbagai fenomena kehidupan termasuk pekerjaan sebagai bekal untuk kehidupan mereka. Hal ini sesuai dengan materi pelajaran pendidikan agama islam yang dikembangkan dengan berdasarkan prinsip berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa serta lingkungannya.

Bahan pelajaran dalam pembelajaran PAI dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa siswa memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepad Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tersebut, pengembangan kompetensi siswa harus disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan siswa serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berfikir, keterampilan social, keterampilan akademik dan keterampilan vokasional merupakan suatu keniscayaan. Atas dasar itu, bahan pelajaran dalam pembelajaran PAI sepatutnya tidak hanya dimaksudkan untuk semata-mata memberi illmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga diarahkan agar siswa dapat mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan fungsi kehidupannya sebagai makhluk yang beriman serta dapat mengikuti perkembangan sesuai dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih. Maka dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih itu, siswa dapat memanfaatkannya sebagai media pembelajaran PAI.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang dapat kami susun adalah sebagai berikut:
1.      Apa Pengertian Bahan Pelajaran PAI ?
2.      Bagaimana hubungan antara Tujuan Pengajaran dan Bahan Pelajaran PAI ?
3.      Apa saja isi Pendidikan Agama Islam ?
4.      Apa saja sifat yang ada dalam Bahan Pelajaran PAI ?

1.3  Tujuan Penelitian
Dalam rumusan masalah diatas terdapat beberapa tujuan dan manfaat diantaranya:
1.      Untuk mengetahui pengertian Bahan Pelajaran PAI
2.      Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara Tujuan Pengajaran dan Bahan Pelajaran PAI
3.      Untuk mengetahui apa saja Isi Pendidikan Agama Islam ?
4.      Untuk mengetahui apa saja Sifat Bahan Pelajaran PAI ?
1.4 Batasan Masalah
Batasan-batasan permasalahan adalah membahas komponen pembelajaran dengan pokok bahasan sebagai berikut:
1.      Menjelaskan Pengertian Bahan Pelajaran PAI
2.      Mendiskusikan hubungan antara Tujuan Pengajaran dan Bahan Pelajaran PAI
3.      Mengidentifikasi Isi Pendidikan Agama Islam
4.      Mengidentifikasi Sifat Bahan Pelajaran PAI


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Bahan Pelajaran PAI
Bahan pelajaran pendidikan Agama Islam adalah salah satumata pelajaran yang mempunyai pokok bahasan dan sub pokok bahasan materi pendidikan agama Islam. yang diuraikan Allah danbersumber dari Al-qur’an harus difahami, diyakini, dihayati dandiamalkan dalam kehidupan umat Islam yaitu fekih, aqidah, akhlak,Al-qu’ran hadist dan sejarah kebudayaan islam. Adapun materi pokokpendidikan agama Islam diperguruan tinggi menurut Sahilun A.Nasiradalah : “Prinsip ajaran agama Islam meliputi akidah, Syariah danakhlak” oleh sebab itu mata pelajaran pendidikan agama Islam ini jugamemiliki beberapa tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Bahan pelajaran PAI adalah isi yang diberikan kepada pelajar pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar PAI. Melalui bahan pelajaran itu, pelajar diantarkan kepada tujuan pengajaran. Dengan perkataan lain tujuan yang akan dicapai oleh pelajar dibentuk oleh bahan pelajaran. Bahan pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya.
Secara umum, sifat bahan pelajaran dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yakni fakta, konsep, prinsip dan keterampilan.
a)      Fakta adalah sifat dari suatu gejala, peristiwa, benda, yang wujudnya dapat ditangkap oleh panca indra manusia. Fakta dapat dipelajari melalui informasi dalam bentuk lambing, kata-kata, istilah-istilah, pernyataan sifat dan lain-lain. Fakta biasanya dipelajari secara hafalan.
b)      Konsep atau pengertian berarti serangkaian perangsang yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Suatu konsep dibentuk melalui pola unsur bersama diantara anggota kumpulan atau rangkaian. Dengan demikian, pada hakikatnya konsep adalah klasifikasi dari pola-pola yang bersamaan. Mempelajari konsep lebih sulit ketimbang mempelajari fakta.
c)      Prinsip adalah pola antar hubungan fungsional diantara konsep-konsep. Dengan kata lain, prinsip adalah hubungan fungsional dari beberapa konsep. Prinsip pokok yang telah diterima dengan baik dan teruji kebenarannya dinamakan hokum. Mempelajari prinsip lebih sulit dari pada mempelajari konsep. Apabila prinsip telah dikuasai, banyak fakta yang diperolehnya melalui penarikan kesimpulan secara logis.
d)     Keterampilan adalah pola kegiatan yang bertujuan, yang memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi yang dipelajari. Keterampilan dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni keterampilan fisik dan keterampilan intelektual. Keterampilan fisik adalah keterampilan psikomotorik, seperti menjahit, mencuci dan lain-lain. Keterampilan intelektual adalah seperti memecahkan masalah, melakukan penilaian, membuat perencanaan dan lain-lain. Hampir semua keterampilan mengandung keterampilan fisik dan keterampilan intelektual. Hanya sifat penonjolannya yang berbeda. Mempelajari keterampilan memerlukan penguasaan fakta, prinsip dan konsep.
B.     Hubungan Antara Tujuan Pengajaran dan Bahan Pelajaran PAI
Semua bahan pelajaran di atas dirumuskan dalam bahasa yang jelas dan diproyeksikan untuk mencapai tujuan pengajaran atau tujuan intruksional. Di bawah ini dijelaskan bagaimana hubungan antara tujuan intruksional dan penetapan bahan pelajaran. Misalnya, tujuan intruksional dirumuskan sebagai barikut:
“Pada akhir pelajaran, diharapkan pelajar dapat membedakan antara wahyu dan ilham.”
Untuk mencapai tujuan intruksonal khusus tersebut, bahan pelajaran yang harus diberikan adalah:
a)      Pengertian wahyu,
b)      Pengertian ilham,
c)      Perbedaan antara wahyu dan ilham.
Guru yang akan mengajarkan bahan tersebut harus menguasai ketiga perangkat bahan tersebut. Jika guru tidak pernah menerima pengetahuan tentang itu selama dididik di lembaga pendidikan guru, maka ia harus mempelajari buku sumber sampai menguasainya, agar ia tidak menyampaikan bahan pelajaran dengan cara membacakannya dari buku di hadapan pelajar.
            Tidak semua bahan pelajaran yang akan disampaikan terdapat dalam buku sumber, apalagi bila untuk suatu bidang studi tertentu belum ada buku teksnya. Dalam hal ini guru dituntut untuk mencari dan mengembangkan sendiri dari berbagai sumber. Kegunaan mata kuliah MK PAI di Fakultas/Jurusan PAI antara lain untuk mempersiapkan calon guru PAI agar mampu menggali ajaran Islam dari buku-buku sumber pendidikan agama Islam. Di samping itu, surat kabar, majalah dan jurnal keIslaman akan sangat membantu guru untuk menguasai bahan pelajaran PAI.
Dalam menetapakan bahan pelajaran PAI, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)      Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran PAI.
b)      Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar hendaknya terbatas pada konsep saja atau berbentuk garis besar, tanpa diuraiakan secara rinci.
c)      Menetapkan bahan pelajaran PAI harus sejalan dengan urutan tujuan.
d)     Urutan bahan hendaknya memperhatikan prinsip kesinambungan (kontinuitas). Kesinambungan mempunyai arti bahwa antara bahan yang satu dan bahan yang lain terdapat hubungan fungsional, sehingga bahan yang satu menjadi dasar bagi bahan yang lainnya.
e)      Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dan dari yang konkrit menuju yang abstrak.
f)       Bahan ada yang bersifat factual dan ada yang bersifat konsptual. Bahan yang faktualbersifat konkret dan mudah diingat, sedangkan bahan yang konseptual berisi konsep-konsep abstrak dan memerlukan pemahaman.
Penetapkan bahan pelajaran PAI dalam perencanaan mengajar tidak banyak kesulitan apabila tujuan pengajaran telah dirumuskan dengan jelas dan terdapat buku sumber yang berkenaan dengan bahan tersebut. Membahas bahan pelajaran PAI dan menyampaikannya kepada pelajar bukan semata-mata persoalan metode mengajar, tapi juga persoalan pengorganisasian dan penguasaan bahan pelajaran PAI oleh guru.
Pengorganisasian bahan bisa ditempuh 2 cara, yaitu:
·         Bahan dibahas secara umum terlebih dahulu, kemudian dibahas satu persatu secara lebih khusus
·         Bahan dibahas satu persatu secara khusus, kemudian sampai pada kesimpulan yang bersifat umum.
Kedua cara tersebut memberi implikasi yang berbeda terhadap cara pembahasan bahan oleh guru. Pada umumnya, cara yang pertama lebih berhasil dari pada cara yang kedua, sebab pelajar memperoleh gambaran mengenai bahan secara keseluruhan sebelum bahan itu dibahas satu persatu. Keuntungan lain bagi pelajar, yaitu mengetahui bahwa setiap bahan yang dipelajari mempunyai hubungan satu sama lain, dan mengacu pada keseluruhan (integrated).
Hal lain yang diperlukan dalam menetapakan bahan pelajaran PAI adalah kepandaian atau kemampuan guru dalam menyeleksi bahan pelajaran PAI yang akan diajarkan kepada siswa. Tidak semua bahan yang ada pada buku sumber harus diajarkan seluruhnya mengingat terbatasnya waktu yang tersedia. Guru harus memilih bahan mana yang perlu diberikan dan bahan mana yang tidal perlu diberikan kepada siswa. Dalam menetapkan pilihan tersebut, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Tujuan pengajaran. Hanya bahan yang serasi dan menunjang tujuan yang perlu diberikan oleh guru.
b.      Urgensi bahan. Artinya, bahan itu penting untuk diketahui oleh siswa. Demikian juga sifat bahan tersebut merupakan landasan untuk mempelajari bahan berikutnya.
c.       Tuntutan kurikulum. Artinya, secara minimal bahan itu wajib diberikan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
d.      Nilai kegunaan. Artinya, bahan itu mempunyai manfaat bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari..
e.       Terbatasnya sumber bahan. Artinya, sumber bahan susah didapat oleh siswa ( tidak ada dalam buku sumber), sehingga perlu diberikan oleh guru.
C.    Isi Pendidikan Agama Islam
Isi pendidikan Agama Islam hendaknya tidak dikacaukan dengan isi atau bahan pelajaran PAI. Yang pertama berada pada tataran filosofis yang melandasi segala muatan pendidikan yang dibutuhkan oleh manusia di dalam kehidupan. Sementara itu, PAI berada pada tataran teknis-operasional yang memuat aspek-aspek terbatas dari isi pendidikan Islam.
Isi pendidikan agama Islam memiliki sejumlah kerakteristik yang digali dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai sumber ajaran Islam. Karakteristik pertama tampak pada criteria pemilihannya, yaitu iman, ilmu, amal, akhlak dan social. Dengan criteria tersebut pendidikan agama Islam merupakan pendidikan keimanan, ilmiah, amaliah, moral dan social. Semua criteria tersebut terhimpun dalam firman Allah ketika menyifati kerugian manusia yang menyimpan dari jalan pendidikan Islam, baik manusia sebagai individu, manusia sebagai jenis, manusia sebagai jenis, manusia sebagai generasi maupun umat mausia secara keseluruhan.
               Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. al-`Ashr,103: 1-3)

            Firman tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses pendidikan berpusat pada manusia sebagai sasaran taklif dan merupakan proses social yang menuntut kerjasama masyarakat di berbagai lapangan kehidupan.
            Isi pertama pendidikan agama islam berkaitan dengan sebuah tujuan besar, yaitu beriman kepada Allah serta menjalin hubungan individu, masyarakat, dan umat manusia dengan al-Khaliq, sehingga kehidupan menjadi bertujuan dan memiliki orientasi yang jelas di jalan yang benar menuju ridho Allah.
            Isi pendidikan agama Islam selanjutnya ialah amal saleh, saling mengingatkan agar menaati kebenaran [isi ini sejalan dengan ilmu yang bertujuan menyingkap hakikat dan mencari kebenaran], dan saling mengingatkan agar menetapi kesabaran [isi ini melambangkan pendidikan akhlak, karena kesabaran merupakan inti akhlak yang disebut di dalam al-Qur’an lebih dari seratus kali]. Isi pendidikan agama Islam yang terakhir ialah pendidikan sosial, mencakup kerja sama dalam menumbuhkan keimanan dan amal soleh serta saling mengingatkan agar menaati kebenaran dan menetapi kesabaran. Peletakan wawu al-jama’ah [huruf wawu yang menunjukkan kepada kata kerja bentuk jamak] pada kata amaanu, kemudian ‘amilu, dan tawashau dimaksudkan untuk menekankan perhatian Islam terhadap pendidikan sosial dan rasa kebersamaan dalam iman, amal, ilmu dan akhlak.
1. Pendidikan Keimanan

            Pendidikan agama Islam berwatak Rabbani. Watak tersebut menempatkan hubungan antara hamba dan al-Khaliq sebagai isi pertama pendidikan Islam.dengan hubungan tersebut, kehidupan individu akan bermakna, perbuatannya akan bertujuan, dorongannya untuk belajar dan beramal akan tumbuh, akhlaknya menjadi mulia dan jiwanya menjadi bersih, sehingga pada gilirannya ia akan memiliki kompetensi untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dengan demikian, pendidikan keimanan merupakan pendidikan rohani yang unik bagi individu.
            Pendidikan Rabbani atau pendidikan keimanan tidak sama dengan pendidikan keagamaan dalam arti pendidikan kependetaan seperti yang berlangsung di Barat dengan nama Religious Education. Pendidikan semacam itu tidak ada di dalam kamus Islam, sebab pendidikan agama Islam mencakup Islam itu sendiri dengan segala konsepnya.
            Pendidikan rohani sebagai salah satu dimensi pendidikan agama Islam tidak hanya ditempuh melalui hubungan antara hamba dan Penciptanya secara langsung, tetapi juga melalui interaksi hamba dengan berbagai fenomena alam dan lapangan kehidupan, baik social maupun fisik. Dengan kata lain, pendidikan Islam memperhatikan pengembangan keimanan tidak hanya melalui perkara gaib, fenomena rohaniah dan peribadatan semata. Kitab alam yang terbuka ini dengan segala fenomena alamnya serta berbagai ilmu dan praktik kehidupan dapat memperkokoh dan berkaitan dengan penanaman keimanan.
            Ayat-ayat al-Qur’an yang menyerukan keimanan sangat bervariasi sejalan dengan bervariasinya lapangan kehidupan itu sendiri. Allah berfirman:
 ﻮﺍﻠﺬﻴﻦﻴﯘﻤﻨﻭﻦﺑﻤﺍﺃﻨﺯﻞﺇﻠﻴﻚﻭﻤﺍﺃﻨﺯﻞﻤﻨﻗﺑﻠﻚﻭﺑﺍﻻﺨﺮﺓﻫﻢﻴﻭﻗﻨﻭﻦﺃﻭﻠﺌﻚﻋﻠﻯﻰﻫﺩﻯﻤﻦﺮﺑﻬﻡﻭﺃﻭﻠﺌﻙﻫﻢﺍﻠﻤﻔﻠﺣﻮﻥﺍﻠﻡﺬﻠﻙﺍﻠﻜﺗﺍﺐﻟﺍﺮﻴﺐﻔﻴﻪﻫﺪﻯﻠﻠﻣﺗﻗﻴﻦﺍﻟﺬﻴﻦﻴﺆﻣﻨﻭﻦﺒﺍﻠﻐﻴﺐﻭﻴﻗﻴﻣﻭﻦﺍﻟﺼﻼﺓﻭﻣﻣﺍﺮﺯﻗﻨﺍﻫﻡﻴﻨﻔﻗﻮﻦﻭﺍﻠﺬﻴﻦﻴ

Alif Lam Mim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dam mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. al-Baqarah, 2 : 1-5)

            Firman Allah di atas menggugah keimanan melalui perkara gaib, ayat-ayat al-Qur’an, dan ibada-ibadah seperti shalat dan zakat..
            Sedang ayat al-Qur’an di bawah ini mengarahkan perhatian manusia kepada penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang serta hubungannya dengan manusia. Dengan pengarahan tersebut, manusia diharapkan akan beriman kepada Allah, Pencipta segala sesuatu. Selanjutnya, dengan perenungan tentang kerajaan Allah, iman seseorang akan lebih kokoh. Hal itu mengisyaratkan bahwa penanaman keimanan yang ditempuh pendidikan Islam melalui astronomi, fisika, geologi serta ilmu hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak kurang pentingnya disbanding melalui ilmu-ilmu kesyariatan. Ayat tersebut ialah
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sis-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. ali ‘Imran, 3: 190-191)

            Iman harus diwujudkan dengan amal saleh. Tanpa amal saleh, iman benar-benar akan kehilangan maknanya. Pentebutan al-Qur’an tentang “orang-orang” yang beriman yang selalu diiringi dengan sifat “orang-orang yang mengerjakan amal saleh” menunjukkan hubungan yang erat antara iman dan amal saleh. Seperti firman Allah dalam al-Qur’an surat al-‘Ashr ayat 1 sampai 3.
            Dr. Fadhil al-Jamali, di dalam bukunya, al-Falsafah al-Tarbawiyyah fi al-Qur’an (Filsafat Pendidikan dalam al-Qur’an), mengemukakan hubungan antara iman dan amal saleh sebagai berikut:
            Iman merupakan sumber akhlak yang luhur. Akhlak pada gilirannya menuntun manusia untuk menemukan kebenaran dan hakikat, yaitu ilmu, sedangkan ilmu akan menuntun manusia untuk mengerjakan amal saleh. Jadi, iman merupakan dasar akhlak yang luhur; akhlak merupakan dasar ilmu yang benar; dan ilmu merupakan dasar amal yang saleh. Inilah konstruksi pendidikan qur’ani. Setiap komponennya saling terkait secara koordinatif dan kokoh. Pada hemat kami, pandangan terhadap kesalingterkaitan ini merupakan landasan untuk memahami filsafat qur’ani. Tanpa pandangan tersebut, pandangan kita terhadap isi pendidikan qur’ani akan kabur, tidak mampu mendeskripsikan secara sempurna hakikat kehidupan utama yang dimaksud oleh al-Qur’an.
            Iman akan memberi petunjuk kepada orang yang mengerjakan amal saleh. Kegunaan iman tersebut diungkapkan antara lain di dalam firman Allah sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang berimandan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (Q.S. Yunus, 10: 9)

            Orang yang tidak mengerjakan amal saleh dan tidak berakhlak Islam adalah orang yang kafir dan mendustakan agama. Hal ini ditegaskan di dalam firman Allah sebagai berikut:
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lali dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. al-Ma’un, 107: 1-7)

            Sabda Rasulullah saw. di bawah ini menegaskan hubungan antara iman dan amal, akhlak, serta mu’amalat:
ﻭﺍﻟﻠﻪﻻﻳﺆﻣﻦﻭﺍﻟﻠﻪﻻﻳﺆﻣﻦﻭﺍﻟﻠﻪﻻﻳﺆﻣﻦﻕﻴﻞﻣﻦﻳﺍﺭﺳﻮﻝﺍﻟﻠﻪﻗﺍﻝﺍﻟﺬﻱﻻﻳﺄﻣﻦﺟﺍﺭﻩﺑﻮﺍﺋﻘﻪ
 “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Beliau ditanya, “Siapakah yang dimaksud, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya.”

            Banyak mukjizat yang membuat Islam menjadi abadi dan tersiar dengan sendirinya, antara lain ialah pranata-pranata ibadahnya shalat, puasa, zakat dan haji. Semua pranata tersebut merupakan factor yang menguatkan iman, memanifestasikannya di berbagai lapangan kehidupan, serta membuahkan kebaikan di dalam pergaulan antar manusia sepanjang masa hingga akhir zaman. Tersiarnya Islam secara tidak langsung tersebuttampaknya merupakan rahasia keabadian risalah Islam.
            Pranata-pranata  ibadah di dalam Islam di atas merealisasikan tujuan besar pendidikan agama Islam, yaitu menanamkan ketaqwaan di dalam jiwa. Penegasan tersebut tampak pada firman-firman Allah di bawah ini:
a)      Firman Allah ketika berbicara tentang hikmah puasa:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. al-Baqarah, 2: 183)

b)  Firman Allah ketika menggambarkan bahwa yang disebut orang bertaqwa adalah orang yang mengerjakan shalat dan menunaikan zakat:
          Alif Lam Mim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.S. al-Baqarah, 2: 1-2)

c)   Firman Allah tentang hikmah praktis shalat:

         Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-‘Ankabut, 29: 45)

d)   Firman Allah tentang hikmah haji sebagai ibadah praktis:
        
         Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlahsebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendakalah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendakalah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (Q.S. al-Hajj, 22: 27-29)
e)   Firman Allah tentang hikmah ibadah jihad, bahwa ibadah ini merupakan jalan untuk merealisasikan ketaqwaan dan kebahagiaan di dalam jiwa:
         Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dam memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. (Q.S. L-Anfal, 8: 74)

            Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan keimanan di dalam al-Qur’an merupakan poros pendidikan agama Islam yang menuntun individu untuk merealisasikan ketaqwaan di dalam jiwa. Pendidikan keimanan tersebut mencakup segala kewajibannya, yaitu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir. Dengan iman, orang akan hidup dalam suasana damai bersama Tuhannya, dirinya dan semua makhluk Allah. Dia akan hidup di bawah naungan petunjuk Allah yang digariskan di dalam kitab-kitab-Nya, sehingga selalu memperoleh taufiq di dalam kehidupan dunia, merasa tentram terhadap qada’ dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruknya serta memperoleh kebahagiaandi kehidupan akhirat berupa surga.
            Pendidikan keimanan di dalam Islam bersifat dinamis. Pertumbuhan iman dapat berproses melalui sentuhan kandungan ayat-ayat Allah, baik yang ditulis (al-ayat al-maktubah) maupun yang terbentang di jagat raya (al-ayat ai-kauniyyah) yang dibaca dengan berbagai pengetahuan; dapat pula melalui ibadah-ibadah praktis yang difardukan dan akhlak social yang dilaksanakan individu di dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, pendidikan keimanan merupakan bagian dasar di dalam pendidikan agama Islam yang melandasi semua bagian lainnya.
2. Pendidikan amaliah
            Pendidikan agama Islam memperhatikan aspek amaliah karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan di dunia berupa kebaikan dan kebahagiaan bagi individu dan masyarakat. Perhatian tersebut terlihat dalam sabda Rasulullah saw. sebagai berikut:
ﺍﻟﻠﻬﻢﺇﻧﻲﺃﻋﻮﺫﺑﻚﻣﻦﻋﻠﻢﻻﻳﻨﻔﻊ
         Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

            Allah berfirman:

         Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. al-Baqarah, 2: 82)

            Perhatian pendidikan agama Islam yang demikian tetap berada dalam prinsip keseimbangan antara aspek teoritis dan praktis. Prinsip ini merupakan karakteristik system pendidikan agama Islam, sehingga berpengaruh terhadap terciptanya hidup yang seimbang.
            Penekanan filsafat pendidikan agama Islam terhadap aspek praktis tampak dalam upaya pengubahan dan pengembangan tingkah laku individu menuju yang terbaik. Upaya tersebut ditempuh dengan membekali ilmu pengetahuan dan menanamkan akhlak Islam secara praktis, dengan mengingat tujuan besar pendidikan agama Islam, yaitu ketundukan kepada Allah:
         Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (Q.S. Fathir, 35: 28)

         (Perwujudan) ilmu bukanlah dengan banyak berbicara. Akan tetapi, perwujudan ilmu ialah ketakutan (kepada Allah).

            Imam al-Syafi’I berkata:
ﺷﻜﻮﺕﺇﻟﻰﻭﻛﻴﻊﺳﻮﺀﺣﻔﻈﻓﺄﺭﺷﺪﻧﻲﺇﻟﻰﺗﺮﻙﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲﻭﺃﺧﺒﺮﻧﻲﺑﺄﻥﺍﻟﻌﻠﻢﻧﻮﺭﻭﻧﻮﺭﺍﻟﻠﻪﻻﻳﻬﺪﻯﻟﻠﻌﺎﺻﻲ

         Ku konsultasikan kepada Waqi tentang buruk hafalanku. Diberinya aku petunjuk untuk meninggalkan maksiat. Dikabarinya aku bahwa ilmu adalah cahaya. Namun, cahaya Allah tidak akan dihadiahkan kepada pelaku maksiat.

                        Amal saleh merupakan tema umum isi pendidikan agama Islam dan buah yang baik dari ilmu yang benar, akhlak yang luhur dan pendidikan social yang bertanggung jawab. Rasulullah saw. pernah memegang tangan seorang pekerja sebagai pengahargaan terhadapnya, seraya berkata:
ﻫﺬﻩﻳﺪﻳﺤﺒﻬﺎﺍﻟﻠﻪﻭﺭﺳﻮﻟﻪ
            Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
                        Pendidikan amaliah mencakup semua pendidikan dalam kategori pendidikan profesi yang berguna bagi kehidupan. Misalnya, pengetahuan untuk menundukkan berbagai fenomena alam serta memanfaatkan kekayaan dan apa yang dapat digali dari bumi bagi kepentingan individu, masyarakat dan semua umat manusia.
                        Islam menghendaki agar setiap individu memiliki profesi sebagai mata penghidupannya dan berupaya menekuninya hingga memberinya hasil yang terbaik. Allah berfirman:
         Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Q.S. al-Mulk, 67: 15)

            Kalimat “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu.” Menjelaskan bahwa manusia baru akan dapat menundukkan bumi dengan segala kekayaannya jika dia mengetahui cara memanfaatkan dan menundukkannya untuk kepentingan hidup di bumi ini. Kalimat “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Kata “berjalan di muka bumi” merupakan symbol yang berarti bekerja, berusaha dan belajar tentang berbagai profesi yang urgen untuk memperoleh rizki dari Allah. Dan kalimat “Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Pernyataan tersebut melukiskan bahwa semua kegiatan hendaknya berorientasi pada tujuan besar Islam serta tujuan pendidikan agama Islam pada umumnya dan tujuan pendidikan praktis pada khusunya. Tujuan yang dimaksud ialah ketundukan, ketaqwaan dan keikhlasan kepada Allah dalam upaya memperoleh ridha-Nya.
            Penghargaan Islam terhadap profesi tampak dalam firman Allah yang menganjurkan manusia untuk meneladani para nabi, seperti firman Allah tentang Nabi Daud as. sebagai berikut:
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendakalh kamu bersyukur (kepada Allah). (Q.S. al-Anbiya’, 21: 80)
  
3. Pendidikan Ilmiah

            Isi pendidikan agama Islam yang lain ialah ilmu pengetahuan; dimulai dari keterampilan membaca dan menulis:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan …Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam

   Pendidikan keterampilan baca tulis dilanjutkan dengan pengetahuan kemanusiaan yang dimulai dari pengetahuan tentang jiwa manusia sampai kepada lingkungan social sepanjang masa dan di setiap tempat, kemudian pengetahuan tentang lingkungan fisik dan fenomena-fenomena alam. Allah berfirman:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Q.S. Fushilat, 41: 53)

   Pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan bersifat komprehensif, karena lahir dari prinsip kesatuan yang merupakan aspek penting di dalam konsep Islam. Atas dasar itu, Islam mendorong manusia untuk mempelajari setiap pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya, masyarakatnya dan semua umat manusia, baik dalam lingkungan pengetahuan kesyariatan maupun pengetahuan social, kealaman ataupun pengetahuan lainnya.
   Pandangan Islam tentang proses memperoleh ilmu pengetahuan menempatkan aktifitas pendidikan dan pengajaran pada derajat ibadah dan kesucian.
ﻣﻦﺳﻠﻚﻃﺮﻴﻘﺍﻳﻄﻠﺐﻓﻴﻪﻋﻠﻤﺍﺳﻠﻚﺍﻟﻠﻪﺑﻪﻁﺮﻳﻘﺍﺈﻟﻰﺍﻟﺠﻨﺔ
Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah membawanya ke suatu jalan menuju surga. (H.R. Muslim)
   Pandangan Islam tentang hubungan antara isi pengetahuan dan tujuan besar pendidikan agama Islam yaitu bertaqwa dan tunduk kepada Allah. Ketaqwaan adalah tujuan yang hendak dicapai dan buah yang hendak dipetik orang mukmin dengan mempelajari pengetahuan. Firman Allah:
Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu. (Q.S. al-Baqarah, 2: 282)
   Pendidika Islam memiliki konsep tentang watak pengetahuan ilmiah dan metode pembahasannya. Metode ilmiah digunakan bukan dalam lapangan perkara gaib seperti iman kepada Allah, hari akhir dan roh. Sebab berada di luar wilayah pengetahuan ilmiah. Allah menegaskan:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Q.S. al-Isra’, 17: 85)

   Islam menganjurkan manusia untuk menggunakan akalnya secara maksimal. Anjuran tersebut dipertegas dengan ancaman terhadap orang yang tidak menggunakan akalnya untuk meneliti, memperhatikan dan menggali bukti-bukti serta menarik kesimpulan dari berbagai pengetahuan, baik pengetahuan keagamaan maupun keduniaan.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Q.S. Ali ‘Imran, 3:190)
   Itulah beberapa ayat yang singkat dan apadat tentang seruan kepada manusia untuk melakukan penelitian dan perenungan terhadap pensiptaan segala makhluk hidup, langit dan bumi guna mengambil peringatan dan pelajaran.
4. Pendidikan Akhlak
            Pendidikan akhlak merupakan bagian besar dari isi pendidikan Islam. Posisi ini terlihat dari kedudukan al-Qur’an sebagai referensi paling penting tentang akhlak bagi kaum muslimin: individu, keluarga, masyarakat dan umat. Akhlak merupakan buah Islam yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan serta membuat hidup dan kehidupan menjadi baik. Akhlak merupakan alat control psikis dan social bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, masyarakat manusia tidak akan berbeda dari kumpulan binatang.
            Allah menjadikan al-asma’al-husnasebagai nilai ideal akhlak yang mulia dan menyerukan kepada manusia untuk meneladaninya. Sebaliknya, Allah mencela akhlak buruk yang disandang oleh orang-orang kafir dan musyrik.
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, menpunyai sifat yang buruk; dan Allah mepunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. an-Nahl, 16: 60)
   Allah adalah al-Rahman (Maha Pengasih), al-Rahim (Maha Penyayang), al-Malik (Yang Memerintah), al-Quddus (Maha Suci), as-Salam (Yang Sejahtera dari kekurangan), al-Mukmin (Yang Memberi Kemanan), al-Muhaimin (Yang Menjaga), al-‘Aziz (Yang Gagah), al-Jabbar (Yang Perkasa), al-Mutakabbir (Yang Mengatasi Segala Kebesaran) dan seterusnya. Orang mukmin hendaknya berusaha maksimal untuk meneladani sifat-sifat tersebut.:
Hanya milik Allahlah al-Asma’al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma’al-Husna itu. (Q.S. al-A’raf, 7: 180)
   Rasulullah saw. pun merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin. Allah berfirman:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir. (Q.S. al-Ahzab, 33: 21)
Rasulullah bersabda seraya menggaris bawahi hikmah kerasulannya:
ﺇﻧﻤﺍﺑﻌﺜﺖﻷﺗﻤﻢﻣﻜﺍﺭﻡﺍﻷﺧﻼﻕ
Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia
   Perjalanan hidup Nabi saw. penuh dengan akhlak yang luhur yang apabila diterapkan dalam kehidupan akan memberi kebahagiaan bagi individu dan masyarakat.
   Dalam konteks penerapan akhlak ini, Islam membuat 2 standar. Pertama, standar minimal:
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. (Q.S. as-Syura,42: 40)
   Namun bagi orang yang mampu mencapai derajat ihsan, dalam arti mampu mengendalikan amarahnya dan memberi maaf sekalipun ia mampu membalas yang setimpal, maka hal itu lebih baik baginya.
Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali’Imran, 3: 134)
   Standar kedua, yaitu standar maksimal, membutuhkan suasana hati yang sabar dan mampu mengendalikan amarah, tanpa tergantung pada realitas. Inilah standar akhlak luhur yang diletakkan Islam untuk dicapai setiap individu tanpa paksaan.
   Akhlak Islam relevan bagi semua manusia dengan segala perbedaan jenis, warna kulit, masa dan negerinya, karena ajaran Islam sesuai dan memperhatikan tabiat dan kejiwaan manusia.
5. Pendidikan Sosial
            Pendidikan social merupakan aspek penting dalam pendidikan Islam, karena manusia menurut tabiatnya, dalam arti sesuai dengan hokum penciptaan Allah adalah makhluk social:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. (Q.S. al-Hujurat, 49: 13)

Allah adalah Rabb al-‘alamin (Tuhan alam semesta) dan Rabb an-nas (Tuhan manusia). Sedang Islam diturunkan sebagai Rahmatan lil’alamin (rahmat bagi alam semesta), bagi semua individu dan masyarakat, bagi semua generasi di setiap masa dan tempat higga akhir zaman. Tabiat risalah Islam adalah social; demikian pula tabiat manusia. Jadi, tidak aneh apabila Islam memusatkan perhatian pada pengembangan kebiasaan social yang baik pada individu serta menanamkan perasaan bahwa dia adalah anggota di dalam keluarga, individu di dalam masyarakat dan seseorang di tengah-tengah umat manusia. Atas dasar itu, Islam mengatur hubungan antara individu dan keluarganya serta antara individu dan masyarakatnya; kemudian memusatkan perhatian pada pembentukan manusia yang saleh untuk hidup di ala mini.
Pendidikan social dalam Islam mulai dengan pengembangan mental individu dari aspek inisiatif dan tanggungjawab individual yang merupakan dasar tanggungjawab secara kelompok di mana setiap individu bertanggungjawab terhadap yang lain:
Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (Q.S. al-Isara’, 17: 14)

   Lapangan kedua pendidikan social dalam Islam ialah keluarga. Suami dan istri memiliki hak dan kewajiban; demikian pula anak dan kaum kerabat. Keluarga merupakan institusi pendidikan terpenting yang pengaruhnya bisa menandingi pengaruh sekolah formal. Rasulullah saw. Bersabda:
ﻛﻞﻡﻮﻟﻮﺩﻳﻮﻟﺩﻋﻠﻰﺍﻟﻒﻂﺮﺓﻑﺄﺑﻮﺍﻩﻳﻬﻮﺩﻧﻪﺃﻭﻳﻨﺼﺮﺍﻧﻪﺃﻭﻳﻢﺠﺴﺍﻧﻪ
Setiap anak dilahirkan dengan membawa fitrahnya. Kemudian dua orang tuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi atau Nasrani atau Majusi.

   Keharmonisan keluarga merupakan salah satu dimensi penting di dalam pendidikan social Islam. Kepentingan ini telihat dalam firman Allah sebagai berikut:
Dan hendakalah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Q.S. al-Isra’, 17: 23)

   Lapangan ketiga bagi pendidikan social ialah  masyarakat luas, termasuk kelompok kecil yang terdiri atas teman-teman sepergaulan. Rasulullah saw. Bersabda:
ﺍﻟﺮﺟﻞﻋﻠﻰﺩﻳﻦﺧﻠﻴﻠﻪﻗﺍﻟﻴﻨﻈﺮﺍﺣﺪﻛﻢﻣﻦﻳﻳﺨﺍﻟﻞ
Seseorang itu akan mengikuti agama temannya. Maka hendaklah seseorang diantara kalian memperhatikan siapa yang ditemaninya.

   Masyarakat Islam memiliki banyak pranata social. Diantaranya yang terpenting ialah masjid dengan berbagai aspek edukatifnya: rohani, amaliah, social, akhlak dan ilmiah. Bentuk-bentuk ibadah amaliah dalam Islam ialah seperti shalat, zakat, puasa dan haji sesugguhnya merupakan sarana-sarana praktis pendidikan yang dilakukan individu sebagai anggota dalam suatu komunitas. Misalnya ketika individu di dalam ibadahnya berdoa kepada Allah:
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.

               Demikian pula shalat Jum’at merupakan pelajaran edukatif mingguan yang bersifat social bagi umat Islam. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baiok bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. al-Jumu’ah, 62: 9)

   Puasa merupakan ibadah yang berdimensi pendidikan rohani. Bebannya bersifat individual, namun pelaksanaannya berlangsung dalam suasana social. Komunitas muslim melaksanakan puasa dan berbuka puasa pada waktu yang bersamaan. Dalam suasana demikian, setiap individu dalam masyarakat dapat menghayati apa yang dialami saudaranya, baik emosional, material maupun amaliah. Sehingga tumbuh dalam masyarakat rasa kepedulian social untuk saling menolong menuju ketaqwaan kepada Allah. Firman Allah:
Hai orang-oran yang beriman, diwajibkan atas kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. al-Baqarah, 2: 183)

   Zakat merupakan ibadah yang berimplikasi pendidikan dengan tujuan bertaqwa kepada Allah. Sarananya bersifat material-ekonomis, namun dampak edukatifnya terhadap masyarakat Islam sangat besar, yaitu tertanamnya rasa kebersamaan sebagai manusia serta kepedulian social dalam suka dan duka. Allah berfirman:
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (Q.S. al-Ma’arij,70: 24-25)

   Haji merupakan ibadah yang bersifat social. Kaum muslimin berkumpul dengan segala perbedaan kebangsaan, warna kulit dan bahasanya. Muktamar haji yang berulang setiap tahun sekali merupakan muktamar terbesar yang diketahui manusia. Seluruh Negara di dunia tidak akan mampu menyelenggarakan muktamar besar dengan variasi kegiatan dan alokasi waktu semacam ibadah haji. Demikianlah beberapa manfaat edukatif social yang dicpai bagi kebaikan masyarakat insani dari muktamar haji tersebut.
   Lapangan terakhir pendidikan social dalam Islam adalah alam semesta, karena Allah adalah Rabb –al-‘alamin dan Rab an-nas; ketuhanan-Nya mencakup seluruh umat manusia. Allah berfirman:
Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan agar kamu menjadi rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya’, 21: 107)
   Pendidikan social dalam Islammenanamkan orientasi dan kebiasaan positif yang mendatangkan kebahagiaan bagi individu, kekokohan keluarga, kepedulian social antar anggota masyarakat, persaudaraan seiman, kecintaan insani, persamaan, saling menolong, kepedulian, musyawarah, keadilan social dan perbaikan diantara manusia.
Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 103)
   Tegasnya, tujuan akhir pendidikan social dalam Islam sebagaimana pendidikan aspek-aspek lainnya ialah ketaqwaan kepada Allah. Tujuan ini ditegaskan di dalan firmannya sebagai berikut:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 110)   

D.    Sifat Bahan Pelajaran PAI
Bahan pelajaran PAI pada garis besarnya mencakup tujuh pokok, yaitu; Keimanan, Ibadah, al-Qur’an, Akhlak, Muamalah, Syari’ah, dan Tarikh. Pada tingkat Sekolah Dasar tekanan diberikan kepada empat unsur pokok, yaitu Keimanan, Ibadah, al-Qur’an, dan Akhlak. Sedangkan pada Sekolah Lanjutan Tingakat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), di samping empat unsur pokok tersebut di atas, maka unsur pokok Mu’amalah dan Syari’ah semakin dikembangkan. Unsur pokok Tarikh diberikan secara seimbang pada setiap satuan pendidikan.
Bahan-bahan tersebut disusun sebagai usaha untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam rangka hubungan antara manusia dan Allah, antara manusia dan sesama manusia, antara manuasia dan dirinya sendiri, serta antara manusia dan dengan makhluk lain, termasuk lingakungan alamnya. Dengan demikian, bahan pelajaran PAI sarat dengan nilai-nilai bagi pembentukan pribadi muslim. Namun, jika bahan itu disajikan dengan cara yang kurang tepat, seperti pelajar disuruh mengahafal secara mekanis, tidak mustahil akan timbul pada diri pelajar rasa tidak senang terhadap pelajaran PAI dan mungkin juga tidak senang terhadap gurunya. Karena setiap bahan yang dipelajari mempunyai sifat yang berbeda-beda, maka untuk setiap jenis bahan diperlukan jenis belajar sendiri. Pada umumnya dikenal jenis bahan dan jenis belajar yang sesuai dengannya seperti tersebut di bawah ini.
1. Bahan yang memerlukan pengamatan
            Pengetahuan yang di miliki oleh anak pada umumnya diperoleh melalui alat indra atau melalui pengamatan, baik langsung maupun tidak langsung. Alat indra memegang peranan yang penting, ketidak sempurnaan atau ketidak pekaan suatu alat indra akan menyebabkan pengamatan tidak sempurna dan hasil belajar menjadi berkurang. Dalam al-Qur’an banyak dijumpai ayat yang menyuruh manusia untuk mengamati ciptaan Allah, misalnya surat Yunus: 5, Yasin: 38-40, an-Nahl: 66, ar-Ra’d: 4, as-Saba’: 18, Fathir: 11 dan sebagainya.
Bahan pelajaran agama di Madrasah Tsanawiyah pada umumnya dipelajari melalui pengamatan (sensory type of learnimng). Misalnya, pengetahuan tentang shalat Jum’at dan pelaksanaannya.
            Dengan mendengar uraian guru (pengamatan melalui indra pendengar), pelajar dapat mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan shalat Jum’at. Begitu juga dengan melalui membaca (pengamatan melalui indra penglihat), melihat orang melaksanakan shalat Jum’at atau melihat film tentang orang shalat Jum’at, pelajar akan memperoleh pengetahuan tentang shalat Jum’at. Contoh-contoh tersebut menjelaskan bahwa metode yang relevan untuk bahan tersebut adalah metode ceramah, atau metode resitasi atau metode proyek. Yang ditekankan pada bahan tersebut adalah segi pengetahuannya, sedangkan untuk keterampilan melakukan shalat Jum’at dan khutbah diperlukan jenis belajar dan metode yang lain.
2. Bahan memerlukan keterampilan atau gerakan tertentu
            Untuk menguasai bahan sejenis ini, seseorang harus belajar secara motorik (motor type of learning).
            Contoh: bahan pelajaran tentang jenazah (mengafani jenazah). Agar siswa dapat menguasai keterampilan itu, guru harus memberinya kesempatan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan gerakan-gerakan atau keterampilan-keterampilan mengafani jenazah. Misalnya keterampilan mengukur, menggunting, mengikat dan membungkus serta keterampilan membaca doa atau bacaan yang berhubungan dengan jenazah.
            Metode yang relevan untuk bahan-bahan tersebut adalah metode demonstrasi dan drill.
3. Bahan yang mengandung materi hafalan
            Bahan pelajaran jenis ini cukup banyak dan harus segera diketahui dan dihafalkan, karena akan digunakan dalam beribadah dan beramal. Untuk mempelajari bahan hafalan ini diperlukan jenis belajar menghafal (memory type of learning). Belajar dengan menghafal sering menimbulkan penyakit verbalisme, yaitu siswa mampu menyebutkan kata-kata, definisi, rumus dan sebagainya, tetapi tidak memahaminya. Penyakit lain yang ditimbulkan ialah intelektualistis, yaitu siswa menguasai pengetahuan sebanyak-banyaknya dari buku pelajaran tanpa mampu menghubungkannya dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari.
            Untul menghindarkan siswa dari penyakit tersebut, perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a)      Bahan yang akan dihafalakan hendakanya diusahakan agar difahami benar-benar oleh siswa.
b)      Bahan hafalan hendaknya merupakan suatu kebulatan (keseluruhan dan bukan fakta-fakta yang berserakan).
c)      Bahan yang telah dihafal hendaknya digunakan secara fungsional dalam situasi tertentu.
d)     Active recall hendaknya senantiasa dilakukan.
e)      Metode keseluruhan atau metode bagian yang digunakan tergantung pada sifat bahan.
Untuk menyampaikan jenis bahan hafalan, guru biasanya menguanakan metode pemberian tugas, resitasi dan tanya jawab.
4. Bahan yang mengandung unsur emosi
            Bahan pelajaran yang mengandung unsur emosi antara lain yaitu: kejujuran, keberanian, kesabaran, kegembiraan dan kasih sayang. Bahan seperti ini memerlukan jenis belajar tersendiri yang disebut emotionaltype of learning.
            Dari uraian tentang sifat bahan pelajaran di atas dapat dikemukakan beberapa pendekatan pengajaran PAI:
a)    Pendekatan pengalaman, yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada pelajar dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan.
b)   Pendekatan pembiasaan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada pelajar untuk senantiasa mengamlkan ajaran agamanya.
c)    Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi pelajar dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya.
d)   Pendekatan rasional,  yaitu usaha memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama.
e)    Pendekatan fungsional, yaitu usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi pelajar dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. 
   

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.  Pengertian Bahan Pelajaran PAI

Bahan pelajaran PAI adalah isi yang diberikan kepada pelajar pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar PAI. Melalui bahan pelajaran itu, pelajar diantarkan kepada tujuan pengajaran. Dengan perkataan lain tujuan yang akan dicapai oleh pelajar dibentuk oleh bahan pelajaran. Bahan pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya.
2.      Hubungan Antara Tujuan Pengajaran dan Bahan Pelajaran PAI
Semua bahan pelajaran di atas dirumuskan dalam bahasa yang jelas dan diproyeksikan untuk mencapai tujuan pengajaran atau tujuan intruksional. Di bawah ini dijelaskan bagaimana hubungan antara tujuan intruksional dan penetapan bahan pelajaran. Misalnya, tujuan intruksional dirumuskan sebagai barikut:
“Pada akhir pelajaran, diharapkan pelajar dapat membedakan antara wahyu dan ilham.”
Untuk mencapai tujuan intruksonal khusus tersebut, bahan pelajaran yang harus diberikan adalah:
a)      Pengertian wahyu,
b)      Pengertian ilham,
c)      Perbedaan antara wahyu dan ilham.

3.      Isi Pendidikan Agama Islam
            Isi pendidikan agama Islam memiliki sejumlah kerakteristik yang digali dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai sumber ajaran Islam. Karakteristik pertama tampak pada criteria pemilihannya, yaitu iman, ilmu, amal, akhlak dan social. Dengan criteria tersebut pendidikan agama Islam merupakan pendidikan keimanan, ilmiah, amaliah, moral dan social. Semua criteria tersebut terhimpun dalam firman Allah ketika menyifati kerugian manusia yang menyimpan dari jalan pendidikan Islam, baik manusia sebagai individu, manusia sebagai jenis, manusia sebagai jenis, manusia sebagai generasi maupun umat mausia secara keseluruhan.
4.      Sifat Bahan Pelajaran PAI
Bahan pelajaran PAI pada garis besarnya mencakup tujuh pokok, yaitu; Keimanan, Ibadah, al-Qur’an, Akhlak, Muamalah, Syari’ah, dan Tarikh. Pada tingkat Sekolah Dasar tekanan diberikan kepada empat unsur pokok, yaitu Keimanan, Ibadah, al-Qur’an, dan Akhlak.
B. Saran
Guru yang akan mengajarkan bahan tersebut harus menguasai ketiga perangkat bahan tersebut. Jika guru tidak pernah menerima pengetahuan tentang itu selama dididik di lembaga pendidikan guru, maka ia harus mempelajari buku sumber sampai menguasainya, agar ia tidak menyampaikan bahan pelajaran dengan cara membacakannya dari buku di hadapan pelajar.


Dalam menetapakan bahan pelajaran PAI, guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)      Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran PAI.
b)      Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar hendaknya terbatas pada konsep saja atau berbentuk garis besar, tanpa diuraiakan secara rinci.
c)      Menetapkan bahan pelajaran PAI harus sejalan dengan urutan tujuan.
d)     Urutan bahan hendaknya memperhatikan prinsip kesinambungan (kontinuitas). Kesinambungan mempunyai arti bahwa antara bahan yang satu dan bahan yang lain terdapat hubungan fungsional, sehingga bahan yang satu menjadi dasar bagi bahan yang lainnya.
e)      Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dan dari yang konkrit menuju yang abstrak.
f)       Bahan ada yang bersifat factual dan ada yang bersifat konsptual. Bahan yang faktualbersifat konkret dan mudah diingat, sedangkan bahan yang konseptual berisi konsep-konsep abstrak dan memerlukan pemahaman.

DAFTAR PUSTAKA
Suparta,Herry noer aly,2008, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: AMISCO
Aly, Hery noer. 1999, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu
Daradjat, Zakiyah, dkk. 1996 Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Arif Armai, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pwndidikan Islam, Jakarta: CIPUTAT PRES
Thoha Chabib dkk, 2004, metodologi pengajaran agama, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR
Ibrahim bin Isma’il  Al-Zarnuji. Ta’lim al-Muta’allim Tariiq al-Ta’allum, Semarang, Toha Putra, t.th., hlm. 10.






           







                                     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar